Skip to main content
Gong Budaya

follow us

Ranahku, Kasihku Husnan Bey Fananie: Puisi-Puisi Sufi Dubes RI di Azerbaijan

Oleh : Dasril Ahmad

DI INDONESIA, sastra sufi bukanlah ragam sastra yang asing lagi, malah pernah dominan mewarnai perkembangan sastra Indonesia modern, yang antara lain ditandai dengan munculnya kelompok Angkatan 70 atau sastra 70-an. Angkatan 70 dalam sastra ini, menurut Abdul Hadi WM (1985), bukan saja menampakkan kecenderungan sufistik, namun beberapa tokoh utamanya seperti Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, Sapardi Djoko Damono dan lain-lain, mempelajari dengan serius tawawuf dan kesusastraannya, malahan menerjemahkan pula karya-karya para penyair sufi dunia. Abdul Hadi WM melihat, kecenderungan sufistik sastrawan-sastrawan Angkatan 70 ini –yang sebenarnya telah dirintis oleh Amir Hamzah si Raja Penyair Pujangga Baru pada tahun 30-an – diikuti oleh generasi sastrawan atau penyair yang lebih muda dari mereka seperti terlihat pada Hamid Jabbar, D. Zawawi Imron, Abrar Yusra, Afrizal Malna, Heru Emka, Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain. Sementara itu, masyarakat yang meminati sastra sufi ini juga tampaknya terus meningkat, karena daya tariknya yang kuat dan aktualitas pesan kerohanian dan moralnya.

Puisi sufi, menurut Kamus Istilah Sastra (Abdul Rozak Zaidan dkk, Balai Pustaka, Jakarta, 1994) adalah puisi yang ditulis oleh penganut paham tasawuf; puisi yang mengandung nilai-nilai tasawuf, pengalaman tasawuf, biasanya mengungkapkan kerinduan penyairnya akan Tuhan, hakekat hubungan makhluk dan khalik, dan segala perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius. Dengan demikian, lewat puisi, penyair sufi mengungkapkan perasaan cinta kepada Tuhan dengan berbagai cara dan pesona, yang membawa pembacanya kepada hakekat kehidupan dan mengenal atau merasakan lebih dekat kehadiran Tuhan dalam peristiwa-peristiwa kemanusiaan.


Buku “Ranahku, Kasihku” (Fananie Center, Jakarta, 2016 : vi + 34 halaman), memuat 20 puisi karya Husnan Bey Fananie dengan titimangsa 1993 – 2005. Puisi-puisi dalam kumpulan ini ditulis Husnan di tempat yang berbeda, lebih banyak di luar negeri ketimbang di dalam negeri, seperti: Amsterdam, Den Haag, Valkenbur-Den Haag, Islamabad, Leiden, S. Gravenhaag, dan Indonesia. Hal itu disebabkan karena sejak menamatkan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Fonorogo (1986), ia melanjutkan pendidikan ke University Of The Punjab, Lahore, Pakistan - Ba In Islamic Study and Politics (1990-1993); Rijks Universitiet Leiden, The Netherlands - Master of Ars at The Fakulty of Theology (1994-1997), dan State Islamic University, Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia – Phd/ Doctor In Politic and Islam (2010-1015. Sejak 2016 – sekarang, Husnan Bey Fanany yang lahir di Jakarta, 13 November 1967 ini menjabat sebagai duta besar RI di negara Republik Azarbaijan.

Bisa diduga, latar belakang pendidikan dan pengalaman/perjalanan hidup (termasuk pengalaman kerohanian) yang religius memberi warna dominan dalam kreativitas penulisan puisi bagi Husnan. Meski ditulis di berbagai negara, namun semangat dan ide puitik yang bertolak dari pengalaman spritualnya untuk mengungkapkan kecintaan dan kerinduan kepada Tuhan, (termasuk juga kepada tanah air) tak pernah pudar di dalam dirinya. Justru itulah, Bastian Zulyeno, Ph. D (staf pengajar FIB UI) dalam pengantar buku ini menyatakan, bahwa kumpulan puisi Husnan Bey Fananie ini adalah modus menyampaikan rasa dari pengalaman hidup yang menurut penulisnya sangat berkesan. Sementara kritikus Maman S. Mahayana menulis endorsement begini: Santri penyair kerap menampilkan spirit Ilahiah, dan penyair yang santri menawarkan kerinduan dan percintaan dengan Tuhan. Saya menangkap, puisi-puisi Husnan Bey Fananie memancarkan semangat keduanya.

Puisi-puisi Husnan dalam buku ini sebetulnya mengungkapkan tema-tema sederhana yang tidak asing lagi dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Sebagai manusia beragama, diwajibkan kepada kita untuk bersyukur kepada Tuhan, karena pemberian-Nya tidaklah ternilai. Begitu juga, hanya kepada Tuhan pula tempat kita berserah diri sepenuhnya, dalam menyelesaikan kegalauan yang melanda akibat warna-warni problematik hidup dan kehidupan duniawi ini. Husnan mengajak kita untuk sepenuh hati mencintai Tuhan, melebihi dari rasa mencintai seorang kekasih hidup di dunia yang mesti diberikan perlakuan lembut, karena hanya kepada Tuhanlah tempat kita berserah diri sepenuhnya dalam kondisi apa pun juga. Hal ini diungkapkan Husnan dalam puisinya berjudul “Pemberianmu ...Kasih” (halaman 5) berikut.

PEMBERIANMU ... KASIH

Ketika kucoba untuk merangkak pelan,
Kau beri kekuatanMu.
Ketika hari-hariku penuh dengan was-was,
Kau beri senyumMu yang indah.
Ketika hatiku galau dengan dunia warna-warni,
Kau tarik tanganku untuk Kau hibur dengan kebesaranMu.
Ketika aku terjepit dari pedang wangi di bawah hidungku,
Kau beri senjataMu di jiwaku.

PemberianMu Kasih ... bukan yang lain.
Hanya Kau Kasih ... tidak yang lain.
SenyumMu Kasih ... hanya yang abadi.
Kau kekal, walau aku hilang dari ramainya masa.
Kau kekal, walau aku punah ditelan tanah.

Mega hilang tanpa ada pelangi, bayu menerjang semua yang hijau,
biru langit walau matahari membakar...
Kau beri mereka hidup di samudera.
Kau beri semua yang melata untuk mengabdi.
Oh... mereka terkadang lupa .. ya...
lupa dengan statusMu...
lupa dengan pemberianMu...

Entah apalagi yang harus kuberikan untukMu Kasih,
sedangkan Kau tak butuh atas semua pemberianku.
Entah apalagi yang harus kupersembahkan Kasih,
sedangkan Kau yang memberiku rasa dan cinta.
Aku hanya butuh Kau kasih ...
dengan semua senyumku yang terindah.
Islamabad, 11 July 1993.

Puisi “Refleksiku” (halaman 11) mengungkapkan refleksi diri “aku” (lirik) bahwa sebagai manusia ia malu dengan tumpukan pasir dosanya di dunia ini. Selama hidup, ia bersama hamba-hamba yang lain sadar betul kalau telah terlalu sering berbuat nista, yang dilarang oleh agama, sementara ia pun tak kuasa memandang “apiMu”. Justru itu, si aku lirik dengan rasa malu (penuh dosa itu) bersikap pasrah, berusaha melakukan perjalanan menemui Tuhan dengan tekun beribadah, meskipun disadarinya bahwa “Perjalananku bersama hamba-hambaMu di bumi yang kukotori sendiri..” Kepasrahan si “aku” tampaknya total, karena “Hanya Engkau yang tau setiap nafasku, hanya Engkau yang tau setiap tetes darahku. Di sini kita menemui ungkapan-ungkapan metaforis yang bagus.

REFLEKSIKU

Kutundukkan wajahku sejajar dengan hamba-hambamu yang berbuat nista ...

Kutekuk lututku segaris selintas dengan ciptaanMu yang bersahaja ...
Kusandarkan tengkukku di dinding dingin di rumahMu nan suci ...
Perjalananku bersama hamba-hambaMu di Bumi yang kukotori sendiri ...
Bukan berarti aku ingin memiliki bumiMu ...
Bukan berarti aku lebih tau kebesaranMu ...
Bukan berarti aku ingin menguasai hambaMu yang lain ...

Ketika SinarMu menerangi ruang-ruang relungku ...
Aku malu dengan tumpukan pasir dosaku,
Aku malu dengan juluran tanganMu,
Aku malu dengan wajahku yang penuh cacat.

Ketika Kau tunjukkan apiMu nan dahsyat ...
Tak kuasa aku memandangnya,
Tak ingin aku ikut bersama hambaMu yang nista
Hanya Engkau yang tau setiap nafasku, hanya Engkau yang tau
setiap tetes darahku.

Pasrahku kepadaMu yang membuat perjumpaanku denganMu ...
Temuilah aku dengan semua dosa-dosaku.

‘S-Gravenhaag, 25 Oktober 1996

Di dalam puisi “Ranahku, Kasihku” (halaman 13) --sebagai puisi panjang yang dijadikan judul buku ini, tumpah kegelisahan penyair terhadap nasib tanah airnya sendiri, yang kini kondisinya sangat miris dan memprihatinkan. Bahasa ucap puisi ini sangat sederhana, cenderung naratif tanpa mengenyahkan metafora bahasa. Puisi ini mengajak pembaca untuk menumpahkan perhatian agar serius memelihara tanah air sebagai kekasih tercinta, sebagai tempat yang indah untuk kita bersuka-ria, bukan sebaliknya memberi tempat dan kesenangan bagi orang asing. Kita simak hal itu dalam larik-larik berikut di dalam puisi yang ditulis Usnan di Jakarta, 25 Maret 2000 ini.

//“Bahwa, pulau itu telah menanggung beban dari sebagian besar kebutuhan negeri ini/ Bahwa, rakyat yang ada di pulau itu masih banyak yang hidup tanpa kelayakan.../ Bahwa kayu, dahan, ranting dan daun ... tergerai tanpa makna yang berarti.../ Bahwa, bukit, gunung, dataran dan lembah ... hanya indah untuk orang asing.../ Bahwa, bakau, karang, dan bermacam jenis ikan hanya untuk hari ini dan esok lusa .../ Menangiskah aku ... mendengar jeritan si Buyung dan si Upik yang berteriak lapar di tengah-tengah lumbung padi?/ Bergetarkah aku ... melihat para nelayan miskin yang tak terubahkan nasibnya? / Ohhhh ... akhk ...akhk .....akhk... tiba-tiba aku terserak dengan kepulan asap hutan-hutan yang dibakar untuk kesenangan orang-orang asing itu!!!”// (Puisi “Ranahku, Kasihku”, halaman 14)
Penyair menyadari kondisi hidup yang memprihatinkan di atas lantaran kesalahan dan kekeliruan kita juga dalam memelihara tanah air tercinta, sehingga untuk mencapai kehidupan yang lebih mencerahkan ke depan kita janganlah sampai lupa memohon kepada Tuhan.

//“Kini ... aku ingin ikut merasakan kepedihan yang menjadi awal dari masa depan pencerahan rakyat dan sanak familiku di ranah ini / Kumohon kepada yang Kuasa ... agar Sinar Rahmatnya tercurah lebih ke pulau itu/ Kumohon kepada kepada yang Kuasa ... agar Aliran Berkahnya mengairi tanah itu/ Kumohon kepada yang Kuasa.. agar Hembusan Kebahagiaan tersebar untuknya/ Kumohon kepada yang Kuasa ... agar rasa kasihku pun ikhlas dan kekal di sana.// (Puisi “Ranahku, Kasihku”, halaman 16)

Puisi-puisi sufi merupakan puisi yang enak dibaca dan dinikmati, karena pesan-pesan rohani dan moral yang diungkapkannya senantiasa memberi kenyamanan di hati kita. Umumnya puisi-puisi sufi ditulis dengan bahasa ucap dan diksi yang sederhana, gampang dipahami maknanya. Para penyair sufi sepertinya tak hendak berumit-rumit mengungkapkan pesan-pesan religius di dalam puisi-puisinya, sebagaimana juga halnya mereka tak ingin pembaca berkerut kening saat membaca dan memahami kandungan puisinya. Namun hal ini bukan berarti bahwa penyair sufi lebih mementingkan tema dan/atau pesan di dalam puisinya dan menyepelekan estetika bahasa puisinya sendiri. Bukan. Justru, dengan bahasa ucap yang sederhana itulah kerap muncul kepuitisan bahasanya. Dalam hal ini, kadar pengalaman dan perjalanan hidup seorang penyair akan dominan mewarnai tema, dan rentang kreativitasnya akan menentukan estetika bahasa yang digunakannya di dalam puisi.

Bergitulah, membaca puisi-puisi Husnan Bey Fananie dalam kumpulan “Ranahku, Kasihku” ini, bagaikan kita menyaksikan air jernih yang mengalir lancar, tanpa bebatuan menghalangi, namun riak-riaknya selalu memancarkan keindahan dan pesona. *** (Padang, 17 Januari 2017)

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar