Skip to main content
Gong Budaya

follow us

Setetes Embun Pengobat Lara; Cerpen Suyatri

Cerpen Suyatri, S.S.

Hamparan hijau membentang mengiringi perjalananku. Angin bertiup masuk lewat jendela bus menyejukkan hati. Sedikit terobati gundahku menikmati indahnya pepohonan yang rapat berbaris di sepanjang jalan Lintas Riau-Sumbar berliku seperti ular berjalan.  Tikungan demi tikungan dilewati dengan tenang bus yang membawaku pulang ke tanah kelahiranku dengan sejuta kenangan masa kecilku. Sungguh indah bila kuingat masa-masa sekolah penuh keceriaan. Kekalutan hatiku akan kutumpahkan dalam dekapan kampung dengan kedamaian dan keramahan alam yang sejuk. Ingin kukembali menyusuri jejak langkah tempatku bermain dan menyendiri di sebuah batu besar dekat rumpun bambu di tepi sungai kecil belakang rumahku. Menumpahkan segala resah, berteriak buang segala beban yang menghimpit dadaku penuh sesak. Yah.. aku pulang membawa luka yang begitu parah ke hadapan ibu, terlalu berat kurasakan, aku tak ingin tubuh tua ibu tahu penderitaanku, telah cukup ibu rasakan kekerasan hidup membesarkan kami anak-anaknya agar bisa mengenyam pendidikan yang baik. Hanya aku yang bisa menamatkan kuliah dengan segi usaha semua keluarga untuk menguliahkanku. Penderitaanku tak pernah kungkapkan pada keluargaku, tak ingin kumengadu setiap masalah yang kuhadapi, aku ingin selesaikan sendiri tanpa membebankan mereka.

Aku mencium sejuknya udara tanah kelahiranku, begitu nyaman dan damai kurasakan di setiap langkah kakiku menuju rumah. Kerinduan semakin erat terikat di hatiku di saat atap rumahku telah terlihat, sungguh aku tak sabar menghambur di pelukan ibu yang begitu hangat.  Kututupi wajah senduku dengan senyum tanpa dilema supaya tak diketahui luka batinku oleh pemilik tubuh tua yang masih tegar dan semangat itu.

“Assalamualaikum, Ibu,” panggilku pelan sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab ibu dari dalam membuka pintu. Tak tahan aku menahan tangis, aku menghambur ke pelukan ibu dan menangis terisak-isak, tak ingin kulepaskan pelukan hangat ibu, aku ingin selalu merasakan kedamaian bersama wanita tua penyemangat hidupku. Ibu tahu jika aku rindu dan telah lama tak bertemu aku selalu menangis seperti anak kecil meminta mainan cantik di pasar.  Pelan ibu membelai kepalaku sambil berkata lembut,”Sudah jangan menangis, apa kamu akan berdiri seperti ini sampai besok tak ingin masuk ke rumah?” Kulepaskan pelukanku pelan, kugandeng tangan ibu sambil masuk ke rumah dan mendudukan ibu di kursi yang ada di ruang tamu, aku duduk di sebelahnya, kurebahkan kepalaku di pangkuan ibu, ibu nyaman dan bahagia hatiku masih bisa menikmati keindahan hangatnya bersama ibu. Ibu membelai kepalaku dan berkata lembut, “ Ada apa Ratih sampai kamu menangis seperti anak kecil? Apakah rindu yang terlalu mengikatmu sampai tak ingin lepas dari pelukan ibu.”  Kutatap wajah tua ibu yang keriput dimakan usia lekat-lekat, wajah teduh yang memberi semangat hidup bagiku, wajah yang tegar memberi harapan indah sebagai motivasi keberhasilanku, tak ingin kuakhiri kebersamaan bersama ibu. Pelan suaraku menjawab, ”Iya, Ibu. Boleh Ratih  tidur dipeluk Ibu malam ini?” Ibu tersenyum manis dan memijit hidungku sambil berucap, “Sejak kapan ibu melarang kamu tidur dekat ibu, Nak?” Aku tersenyum malu mendengar ucapan ibu , “Terima kasih, Ibu?” ucapkan sambil mencium tangan ibu.

Kerinduanku pada ibu membuat aku lelap tidur di pangkuan ibu, aku tak tahu berapa lama aku tertidur, suara lembut ibu membangunkanku agar aku segera mandi dan shalat magrib. Aku membuka mataku berlahan wajah ibu lekat di depanku dengan senyum khasnya. “Iya, Ibu terima kasih telah membangunkan Ratih, Ratih sayang Ibu,” ucapku dengan manja sambil memeluk dan mencium ibu. Ibu tersenyum mencubit pipiku lembut, alangkah bahagianya hatiku bila berada di dekat ibu, ibu luar biasa, wanita hebat yang tak pernah mengeluh, pantang menyerah dan mandiri. Aku bangga terlahir dari seorang ibu yang gigih. Kokohnya kaki dan tangannya masih terlihat, kekuatan semangat masih terpancar di bola matanya tak pernah pudar walau tubuh tuanya telah ringkih. Ibu yang memberi cahaya indah di rumah matahari terbitku, ibu yang melindungi dan membantu perekonomian keluarga sebagai penopang hidup karena ayah hanya hanya pegawai rendahan yang bergaji kecil. Namun ibu tak pernah mengeluh sedikitpun, tak pernah ada air mata tumpah meskipun pahitnya hidup, tak pernah menyesal walaupun kesederhanaan menghiasi kehidupan kami. Yah… itulah sosok tua ibu yang kujadikan idola dan contoh yang sangat kurindukan. Ketabahan dan kesabarannya adalah anugerah terindah yang aku miliki.

Aku bangkit dari dudukku menuju kamar mandi, segar air menyejukkan hatiku, ingin kuberlama-lama berendam bermain air membuang perih di dadaku, beban yang menghimpit batinku membuat aku tak berdaya, keresahan yang melingkupi jalan hidupku seperti labirin tak berkesudahan, namun aku harus bersyukur masih ada ibu yang selalu menerimaku apa adanya, penuh kasih, dan kelembutannya mendamaikan batinku.

Aku duduk di teras rumah setelah shalat magrib, bersantai bercerita banyak hal. Kerinduan masa kecil merasuki hatiku diam-diam, perubahan hidup takkan merubah keadaan, aku harus bisa terima kenyataan. Lukaku kan terobati dengan kesabaranku menerima takdir.

Malam mulai merayap, pekat tanpa cahaya menghiasi gelapnya malam, hamparan permadani hitam rata tergelar. Suara jangkrik mulai terdengar nyaring menambah sunyi malam membuat aku larut dalam pikiranku sendiri. Sepiku merasuk di celah relung hatiku yang masih menyimpan luka, mataku belum juga bisa kuajak lelap dalam mimpi indahku. Kutatap wajah tua yang ringkih  di sampingku terlelap dalam lelahnya mengerjakan rutinitas. Beliau tak mau berhenti bekerja walaupun berkali-kali aku memohon agar tak lagi bekerja keras. Aku telah membujuk ibu agar mencari orang untuk mengurus segala keperluan ibu namun ibu selalu menolaknya bahkan ibu sering mengatakan tak terbiasa duduk diam dan menjadi begitu suntuk jika tak mengerjakan apa-apa.  Niatku hanya ingin yang terbaik untuk ibu, ibu adalah yang paling istimewa bagiku, inilah saatnya aku membalas budi baik ibu dengan mengabdi padanya. Ibu yang tegar tak mau menyusahkan anak-anaknya, kasih sayang ibu tak pernah hilang di telan waktu. Wanita tegar yang setia mendampingi ayah, sudah 40 tahun bersama tak pernah kulihat pertengkaran dan kemarahan di rumah matahari terbitku, aku ingin seperti inilah kehidupanku.

Mataku semakin berat dan terlelap juga azan subuh membangunkanku untuk menjumpai sng khalik pencipta alam semesta. Hanya kepada Allah kusandarkan keperihan hatiku yang hampa dan kosong. Zikir membuat aku merasa lebih tenang dan ingin berlma-lama duduk di hamparan sajadah, bercerita kepada Zat Pemberi Kehidupan. Zat yang telah memberi rezeki dan rakmat kepada hambaNya. Zat yang Maha Agung tiada yang mampu menghindar dari penglihatanNya, setiap menyebut nmaNya menggetarkan hati dan akan menggigil tubuh meradakan kedekatan atas ZatNya. Kebenaran Allah Maha dasyat, segala piji hanya milik Allah, manusia begitu kecil dan hina di hadapanNya.

Pagi berselimut kabut, tetesan hujan masih menyisakan mendung di langit, burung-burung bernyanyi diantara dahan menari kuyup di rimbunnya dedaunan basah. Embun melekat mesra menikmati kebersamaan di atas rerumputan, mentari enggan menampakkan wajahnya di balik hamparan awan kelabu, angin berhembus menyentuh tubuhku dalam dekapan dingin menggigil, kurapikan jaketku agar hangat dan kulipat tanganku di dada. Tiba-tiba suara lembut ibu mengagetkan lamunanku, wajahku bersemu merah karena melamun sepagi ini.

“Hayo lamunkan apa sepagi ini sayang ibu?” goda ibu padaku.

“Ibu, apaan sih? Ratih nggak melamun kok Bu, hanya menikmati pagi yang dihiasi rintikan hujan, sungguh indah, Bu”, jawabku manja memeluk ibu di sampingku, ada rasa damai dan sejuk bila berada dipelukan ibu. “Nak, kapan lagi kamu mencari pendamping hidup?, Ingat usiamu dah semakin bertambah, apa kata mereka jika kamu masih bertahan dengan kesedihanmu, jangan tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu, carilah penggantinya yang bisa mengajakmu menuju cinta Allah, yang bisa menjadi imammu, yang membimbingmu menuju rida Allah, andai Arbi tahu pasti dia akan berkata hal yang sama seperti ibu, ibu telah tua Nak, ibu dan ayah ingin melihat Kamu bahagia sebelum sampai waktunya tiba”,kata ibu lembut. Ada luka yang semakin perih kurasakan di hatiku, aku hanya diam saja tak mampu menjawab kata-kata ibu, larut dalam pikiranku sendiri. Ibu memahami gundah hatiku, sejak kecelakaan merenggut calon imamku tak ada lagi yang mengisi ruang hatiku, kutenggelamkan diriku dalam kenangan bersamanya, kesimpan rapi namanya di sudut hatiku, dia yang membawaku hijrah mengenal cahaya Illahi, dia yang membimbingku tuk dekat denganNya, mengajarkan aku mengenal cinta yang sesungguhNya, dia yang menuntunku menghembuskan napas zikir indah. Enam tahun berlalu sanggupkah aku menghapus namanya di hatiku yang melekat erat? Kutarik nafas berat, ibu membiarkanku sendiri dan pelan-pelan pergi ke dapur, rasa sesak di dada membuat aku jengah, aku ingin menghirup udara segar dan menenangkan diri. Aku bangkit dan berjalan ke belakang rumah dan menghilang di balik rimbun rerumputan melewati pematang sawah yang asri dan indah.

Aku duduk di atas batu besar biasa aku menyendiri membuang gundahku dan belajar di masa kecilku, tempat paforitku yang selalu kukunjungi, kupejamkan mataku mengenang masa kecil yang begitu indah. Sedang asyik dalam pikiranku aku dikejutkan dengan suara laki-laki sontak aku berdiri dan gemetar tubuhku menahan rasa terkejutku. “Ratih, ternyata masih sering mengunjungi tempat ini, apa kabar, Dik?” tanyanya. Ternyata Uda Deni yang datang, aku berusaha tenang dan bersikap biasa saja, “Alhamdulillah sehat Uda” jawabku pelan. Darimana Uda tahu Ratih di sini?”tanyaku penasaran. “Uda tadi ke rumah dengar kabar Adik pulang, ibu yang beritahu uda kalau Adik pergi ke sini,” jawabnya menatapku. Aku jengah melihat tatapan Uda Deni, aku berusaha menjauh darinya sejak kejadian SMA dulu, aku telah menganggapnya saudara tetapi berbeda tanggapannya. Aku berusaha menghilangkan rasa tak enak di hati ku alihkan dengan menanyakan kabar amak, “Gimana kabar amak, Uda?” “ Alhamdulillah amak sehat, Dik. Datanglah ke rumah telah lama Adik tak pernah singgah jika pulang sekolah, mengapa karena Uda menyatakan suka sama Adik dulu amak ikut imbasnya” ungkap Uda Deni mengagetkanku. Aku merobek-robek daun yang kepegang, tak mampu kujawab, aku berdiri dan melangkah berjalan, kutinggalkan Uda Deni, aku tak tahu seperti apa wajahnya, aku jugatak ingin ada yang melihatku bersama Uda Deni bisa jadi fitnah. Aku tak ingin mengungkit cerita lama, kupercepat langkahku melewati semak dan lompat ke pematang sawah sedikit berlari, jilbabku melambai-lambai tertiup angin, Uda deni mengikutiku dari belakang sambil memanggilku, namun aku tak hiraukan. Tiba-tiba aku terpeleset dan hamper masuk ke sawah tubuh besar Uda Deni menyambutku, Uda Deni mendekap tubuhku, begitu sadar kudorong tubuh Uda Deni,  hatiku tak menentu ku balikkan tubuhku dan melangkah sedikit berlari, tak kuhiraukan lagi ucapan Uda Deni, aku bergegas dan langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Ibu yang melihat wajah pucatku memanggil-manggil dari luar terdengan suara Uda Deni berbicara pada ibu, aku sangat malu kepalaku penuh dengan kunang-kunang dan tanpa sadar aku terlelap dalam mimpi,hingga azan ashar membangunkanku. Hatiku masih tak menentu, teringat kejadian itu, sungguh aku tak ingin bertemu dengan Uda Deni.

Hatiku begitu gelisah, aku teringat kejadian kemarin ada rasa sedih menyelinap di hatiku, tubuhku telah disentuh oleh Uda Deni, aku merasa kotor dan tak berharga walaupun niat Uda Deni menolongku tapi aku tetap tak enak hati. Suara ibu membuyarkan lamunanku, duduk di sampingku sambil tersenyum penuh makna, aku tahu ibu pasti membujukku lagi untuk bisa menghapus Mas Arbi dari hatiku. Dan menerima Uda Deni untuk menjadi imamku.“Ratih, Deni anak baik, apakah Kamu tidak melihat kebaikan pada sikapnya? Apakah benar-benar telah kau butakan hatimu untuk kebaikan itu? Dia setia menunggu jawabanmu telah diceritakannya pada ibu,Nak. Tidakkah kamu rasakan perhatian dan harapannya? Bukalah pintu hatimu, kita telah lama mengenalnya, mengenal keluarganya, tak ad salahnya kita pererat silaturrahmi lebih baik lagi, Deni juga taat beribadah dan bisa kamu jadikan imam menuju cahayaNya”, ungkap ibu pelan. Aku menatap ibu lekat, ada ragu dihatiku, ibu melanjutkan lagi “Mintalah petunjuk padaNya, yakinkan hatimu dengan shalat istikharah, Allah akan menjawab keraguanmu, Nak.” Aku tetap diam dan membenarkan kata ibu, ibu pastilah ingin yang terbaik kepada anaknya.

Dalam hening sepi kucurahkan segala gundah menyebut azmaNya, telah saatnya aku hidup baru menghapus kenangan masa lalu dan mengubur kesedihan, tak mungkin aku larut dan terkubur bersama bayangan. Kumantapkan keyakinanku dan kupahami kekhawatiran ibu yang menyayangiku.

Pagi yang cerah kuawali dengan nyanyian kecil sambil membersihkan rumah, ibu datang lagi menggodaku, “Duh anak ibu yang manis bahagia banget pagi ini? Mimpi apa tadi malam?” aku hanya tersenyum malu. “Tadi ada pesan kamu dimintak Amak ke rumah, telah lama tak jumpa kangen calon menantu katanya,”goda ibu lagi. “Ibu ada aja, iya nanti Ratih kesana, Bu” jawabku malu sambil melangkah masuk untuk meletakkan sapu.

Aku pamit pada ibu ke rumah amak Uda Deni, aku ragu, rasa malu mengingat kejadian di pematang sawah masih jelas di ingatanku. Aku termenung melihat halaman rumah Uda Deni, tak ada yang berubah, binga-bunga masih ramai menghiasi halamannya, amak ke luar dan mengejutkanku.

“Tak baik anak gadis berdiri lama di halaman, masuklah ke rumah jangan seperti tamu yang baru kenal aja” kata amak sambil tersenyum dan membimbing tanganku ke dalam rumah.

“Ini rumahmu juga,Ratih. Suaramu akan menghiasi rumah ini setiap hari, tak perlu Kau merantau lagi, Kau boleh tinggal di sini atau di rumahmu sendiri, bahagia sekali amak jika kau menjadi istri Deni” lanjut amak membuatku semakin malu, pipiku merona merah. Uda Deni keluar sambil berkata,

”Janganlah digoda terus Ratih,Mak merah wajahnya Mak bilng begitu, dia saja tak mau sama Deni, Mak.”

“Napa Kau bilang begitu, Deni? Amak ingin Ratih jadi menantu amak, mau kan Ratih?” Tanya amak dan akupun mengangguk tanpa kusadari dan tanpa sadar mulutku juga mengatakan iya, sungguh terkejut Uda Deni mendengarnya.
“Benarkah Adik mau jadi makmum Uda?” Tanya Uda Deni ragu. “Iya Uda” kataku pelan. “Kau menerima lamaran Uda, Dik?”

“Iya, Uda” jawabku lagi. Aku juga tak tahu mengapa kata itu saja yang meluncur dari mulutku. Uda Deni begitu senangnya, dia menggendong amak, seperti anak kecil baru dapat mainan, sementara aku duduk terbengong melihat apa yang terjadi, amak teriak-teriak minta diturunkan, begitu sadar Uda Deni menurunkan amak dan duduk di dekatku sambil meminta maaf.

“Maaf, Dik.uda terlalu bahagia mendengarnya jadi terbawa emosi. Uda janji akan menjaga bunga mawar yang akan menghiasi hati Uda. Takkan Uda sia-siakan Dik Ratih”, kata Uda lembut. Aku hanya tersenyum saja.

Telah terjawab sudah doaku, telah kupersiapkan syurga hari-hariku. Akan kujaga rumah matahari terbitku kelak menuju cahaya Illahi melengkapi din. Inilah rahasia Allah yang tak bisa ditebak oleh siapapun. Aku bahagia dengan apa yang kumiliki. Semangat dari ibu agar aku bangkit dan tetap semangat menjalankan hidup.

BIODATA
Suyatri, S.S. lahir Padang Siminyak, tanggal 24 Agustus 1979.  Daerah asal Jorong Bukit Gombak Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat. Pekerjaan PNS guru SMPN 1 Pagaran Tapah Darussalam. Tamatan S-1 Sastra Indonesia USU. Tinggal di Ujung batu Rokan Hulu Riau. Email : suyatri24@gmail.com.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar