Skip to main content
Gong Budaya

follow us

Telah kutemui Sahabat; Cerpen Elma Sovia Zaidir

Cerpen Elma Sovia Zaidir

Malam yang gelap gulita, hening tanpa suara. Hanya sepi yang selalu menemaniku. Kucoba lepaskan kesepian dan kesunyian yang dingin dalam tetesan demi tetesan air suci, kusirami mulai dari pergelangan tangan,  mulut, kedua lubang hidung, lalu muka yang lembut, tangan kanan dan kiri, helaian rambut yang tergerai  panjang, kedua telinga dan yang terakhir kedua kaki yang bersih dan putih. Segar, sejuk , tenang, tentram dan senang seolah lupakan sejenak masalah sunyi yang mencekam di hati kecil yang suci ini. Kucoba menutup dan membungkus badan yang tak berdaya dengan kain putih polos yang tiada berenda yang menjalar dan menutupi auratku dari atas kepala sampai ujung kaki, seolah kain ini seperti kain kafan yang tak bermode, ya ini dia mukenah kesayanganku. Walau seperti kain kafan, tapi aku sangat senang menggunakannya karena ini adalah mukenah yang mendekatkan aku kepada Sang Khalik. Ku angkat tangan yang lemah ini seraya diiringi takbir yang terlantun dari bibir yang merah merekah dan sangat tipis. Aku berdialog dengan Allah SWT tergerak bibir tipis memuji asma Allah SWT dengan hikmat dan berulang-ulang yang tidak membosankan. Kutengadahkan tangan mengharap ridho-Nya.
Menemui sahabat
(foto dok:boy yendra tamin)
“ Ya Allah, ampuni dosa hamba,jadikanlah hamba anak yang salehah yang selalu kuat iman dan bertakwa kepadamu.Ya Allah hamba hanya memohon kepada-Mu, kirimkanlah hamba sahabat yang selalu ada disaat hamba dalam keadaan apapun dan jadikanlah ia menjadi sahabat dunia akhirat hamba.Ya Allah, sejujurnya kesepian dan kesunyian ini sudah membunuh hamba.Ya Allah, harta yang berlimpah memang engkau berikan kepada keluarga hamba tapi semakin banyak harta engkau berikan malah membuat hati ini semakin sepi dan sunyi karena semakin sulitnya hamba temui sahabat sejati yang sesunggunya.Ya Allah, semoga engkau cepat pertemukan hamba dengan sahabat sejati hamba amin yarobbalalamin”.

Tanpa terasa butiran bening membasahi pipiku dalam perenungan permohonanan di kesunyian waktu. Kurapikan semua alat sholat ini dan ku taruh di atas meja coklat yang indah ini, selagi hati masih bergumam.” Kesepian dan kesunyian ini membunuhku.” Kucoba hilangkan kata itu dengan kualihkan hati pada novel kesukaanku “Wanita Berkalung Sorban”. Kunikmati kalimat demi kalimat. 

Tak terasa mata ini pun mulai terkantuk seolah ada jin yang menduduki kelopak mataku yang memaksa untuk tidur. Sebelum kupejamkan mata ini, aku melantunkan permohonan kepada sang Penguasa alam. ”Ya Allah cepatlah datangkan sahabat sejati dalam hidupku” dan langsung kubaca doa sebelum tidur melalui bibir yang pasih melafaskannya.

Suara kokokan ayam seiring dengan lantunan azan yang menggema dari  pelosok sudut-sudut daerah beradu dan membangunkan orang  yang tengah tertidur pulas di pulau kapuknya dan mata yang terpejam seolah terbelalak  seiring mengangkat tubuh yang lemah tak berdaya menjadi bersemangat menuju kamar mandi dan langsung bersihkan diri sambil mengambil air wudhu.  Tubuh ini terasa segar dan dingin, sampai-sampai bulu romaku berdiri tegak oleh air pagi ini. Pagi ini adalah hari pertama aku masuk sekolah, dengan bangga kupakai seragam baru yang berwana putih dongker. Aku pun berangkat menuju sekolah dengan jalan kaki, aku jalan sendiri pergi ke sekolah. 

Di jalan aku pandangi pepohonan yang hijau berdaun lebat, ada juga sungai kecil yang mengalir tenang melalui setiap pohon sawit yang melambaikan daunnya ke arahku, sungguh indah pagi hari ini. Di sepanjang jalan aspal  terasa begitu damai dengan cicitan anak burung gereja di sepanjang tali kabel listrik. Hanya sekitar 10 menit aku berjalan di seberang jalan sebuah gerbang yang tak terlalu besar dengan pagar besi  berwarna biru membuat langkah kaki terhenti sejenak di depan pagar itu. Di balik pagar inilah anak-anak seusiaku menggantungkan impian masa depan dan cita-citanya. Di sini dan tak hanya itu, gerbang ini sangat istimewa karena di balik pagar ini banyak berjuta ilmu yang dapat dipelajari dengan cara bersungguh-sungguh. Ya inilah sekolah baruku yang kucintai, di balik pohon matoa terdapat pamflet SMPN 1 Pagaran Tapah Darussalam. Inilah sekolah yang akan membawaku ke masa depan yang cerah, aku sangat yakin itu. Kulangkahkan kakiku untuk melewati pagar, terlihatlah berjajar ruangan yang lumayan banyak dan mataku terfokus pada sebuah bangunan yang belum jadi, sepertinya itu adalah musalla SMP. 

Kulangkahkan kaki ke pojok musalla untuk melihat ruangan dalamnya. Ternyata  belum di keramik dan ruangannya cukup luas. Aku duduk beristirahat menikmati sejuknya angin di pojok mushala. Terlihatlah  hamparan kolam kecil yang berisi ikankecil dan udang. Airnya seperti warna kolam pada umumnya yang berwarna kecoklat-coklatan lebih indah karena terdapat di depan mushola dan di sekeliling kolam berjajar bunga jarum yang berwarna warni sedang berbunga lebat. Di sisi lain ada pohon kelapa yang melambai di sudut pagar yang dapat dilihat dari musalla. Aku sangat senang dan nyaman duduk dipojok ini, kupejamkan mataku sejenak dan hati sambil bergumam “sungguh indah, jika aku di sini duduk berdua dengan sahabat sejatiku” tak sengaja butiran bening lembut basahi pipiku. Kuhapus butiran bening dengan jari yang mungil ini dan kuputuskan untuk meninggalkan tempat ini.

Tak lama melangkah bel pun berbunyi tanda siswa  dikumpulkan. Aku pun berlari dan berbaris di bagian khusus kelas VII siswa baru lainnya.Terlihat wajah mereka tampak senang tapi terlihat juga kebingungan di raut wajah mereka. Aku hanya bisa diam dan menunduk menyaksikan kelakuan-kelakuan anak seusiaku bergurau dalam barisannya. Terlihat seorang lelaki yang berbadan kekar berdiri gagah di depan para siswa, seolah-olah ia menjadi pemimpin dan ia berkoar-koar menyiapkan dan merapikan barisan. Beliau adalah wakil kepala sekolah. Di sekolahku SMP dan SMA itu bergabung. Setelah itu kami dibagi kelasnya dan aku menempati bagian kelas VllA. Dan lagi-lagi aku hanya bisa diam dan diam, karena aku tidak mempunyai teman di sini, tapi kucoba tersenyum saja untuk tutupi hati yang pilu ini. Kupilih bangku terdepan di barisan tengah agar lebih jelas melihat tulisan di papan tulis.

Tinung...tinung...

Brak..brukkk... terlihat rusuh siswa yang mau ke luar kelas karena waktunya istirahat. Mereka berhamburan ke kantin karena mungkin cacing di dalam perut mereka telah memberontak dan  meminta jatah makanan. Dalam kerusuhan keluar dari pintu aku lebih memilih untuk ke luar yang terakhir saja, takutnya nanti bertabrakan dengan teman yang lain. Akhirnya giliranku yang ke luar dari kelas dan kulangkahkan kaki ini kepojok kelas VllA, kududuki sebuah semen pembatas selokan, tak jauh dari tempat dudukku sangat tepat terfokus di mata jeli ini sebuah kantin yang penuh sesak oleh siswa yang tunggu giliran pesanan makanannya. Riuh sekali mereka tak sabar untuk menikmati lezatnya makanan disaat perut sudah kosong. Tak sengaja terpandang olehku satu titik di kerumunan siswa tersebut, terlihatlah geng wanita, tapi aku bukan memfokuskan kearah wanita-wanita itu, tetapi kepada dia, ya dia seorang lelaki yang ada di tengah geng wanita itu, ia begitu manis dan lucu, sepertinya ia orang yang asyik dan selalu ceria. Lagi-lagi hati bergumam dan merasa sedih “ Kapan aku bisa seperti mereka, yang selalu hadapi semuanya dengan sama-sama, Kapan ya Allah,” sambil melamun membayangkan nasibku.

”Hey... hey..” seperti ada  yang memukul bahuku dengan lembut didepanku.
“Astagfirullahalazim,” dengan ekspresi terkejutku.
“M.. a.. a..f ma..a..f, maaf ya kalau aku dah mengagetkanmu” sambil memohon dan tersenyum manis didepan ku.
“iya gak papa kok”. Kubalas senyumnya.
“Oh iya kamu ngapain sendiri aja di sini, pake melamun segala lagi, ntar kesembet, ehh maksudnya kesambet setan lagi!” Cengegesan gak jelas.
“Hmm (senyumin) iya nggak apa apa kok. Cuma lagi pengen sendiri aja”. 
“Hey sini,” ajak temannya yang berada di kantin ke arah anak laki-laki itu.
“Iya udah dulu ya, aku ke tempat teman dulu, soalnya dah pada manggili.” tersenyum sambil berlari kecil ke arah kantin.

Tak sempat ku balas perkataannya dia malah sudah pergi. Sepertinya anak laki-laki itu kakak kelas ku, tak tampak olehku dia berbaris di kelas VII.

Tinung.....tinung.....tinung

Bel sekolah berbunyi, pertanda siswa akan pulang. Tampak olehku para siswa berbaris rapi termasuk aku dan sambil menunggu giliran bersalaman dengan ibu guru. Di pintu gerbang terlihat sesak oleh  siswa yang ingin ke luar, ya begitu banyaknya murid di sini. Cuaca yang sangat menyengat dan serasa menyusuk kulit dan ubun-ubun di kepalaku membuatku ingin berlari secepat angin agar cepat tiba di rumah tercinta. Tak jauh melangkah kaki ini meninggalkan gerbang sekolah. Tanpa kuperhatikan jalan aspal yang kupijaki tiba-tiba, ... bruuk.... “adu..uu..h..sakit.” Sambil kupegangi lutut yang terbungkus seragam sekolah.

“Kamu gak apa-apa kan?” terdengar suara dari belakangku, tapi suara tersebut tak begitu asing. “Aku nggak apa-apa kok.”

Kupandangi lutut yang berkulit tipis ini, telah tergores oleh peraduan aspal yang hangat, sehingga mengeluarkan darah dengan cepat. Tak bisa kusembunyikan butiran air yang mengalir membasahi pipi ini.
“Mari kubantu” diulurkan tangannya yang panjang itu. 
“Iya makasih, aku masih bisa sendiri kok,” sambilmencoba untuk bangkit.
Kutolehkan kepala ini ke atas, ternyata dia adalah orang yang mendatangiku tadi di pojok kelas. “Aduh..,” aku terjatuh lagi karna kaki ku terluka dan  keseleo.
“Hmm.” Dengan gesit dia lepaskan dasi yang berada di kerah bajunya dan mengikat luka ini dengan dasi nya.
“Ayo sini tangan kamu biar kuantari sampai ke rumah kamu,” ajak nya dengan senyum manis. Kusambut tangannya, diperjalananku bibir ini diam terbungkam, tapi sebelum sampai di rumahku anak laki-laki itu membuka pembicaraannya.
“Rumah kamu dimana?” tanya anak itu pada ku.
“Rumah aku dekat lagi, nanti kamu juga bakalan tau kok.”
“Nah itu rumah aku!” kutunjuk rumah yang kecil dan sempit yang berada di samping rumahku. “Neng... Neng Via... kenapa kaki eneng?” tanya bibi dengan cemas.
“Nggak apa-apa, tadi cuma kesandung aja kok bi,” jawabku untuk menghapus kecemasan bibi. Aku pun diantar anak itu sampai ke dalam rumah bibi yang kecil itu, dan di dalam rumah bibi, kaki ku di obati dan di situ juga kami memperkenalkan diri kami masing-masing.
“Makasih ya udah nolongi aku, perkenalkan nama aku sovia, panggil aja via. Nama kamu siapa?” tanyaku.
“Aku Azdi,” tersenyum malu. “Hmm, maaf, kayaknya aku gak bisa lama-lama via, soalnya nanti takutnya ibuku nyari aku, assalamu’alaikum”. 

Azdi pun bergegas meninggalkan rumah bibi, dan untungnya Azdi tidak tahu kalau sebenarnya ini bukan rumah ku. Aku langsung ke rumah dan masuk kamar untuk meminimalkan rasa sakit dan lelahku. Kubaringkan badan ini di kasur. Kuhidupkan musik untuk hilangkan kesunyian dengan melodi kesukaanku dan tak bisa juga. Kutahan kantuk yang menghinggapi mataku. Akhirnya kupejamkan mata yang telah redup ini. 

Keesokan harinya Azdi datang ke rumah mengajakku untuk berangkat bersama ke sekolah dan kini sampai sekarang Azdi denganku semakin dekat saja. Kini aku dengan Azdi sudah menjadi sahabat sejati. Seiring waktu masih berdetak berputar melewati angka dengan perlahan maka di situlah kami menuliskan sebuah cerita menarik di setiap goresan tinta di dalam sebuah lembaran-lembaran putih yang kosong. Persahabatan aku dengan Azdi selalu kami jalani dengan kesederhanaan yang selalu menghadapi semuanya bersama-sama. Hingga akhirnya aku menceritakan kisahku kepadanya bahwa sebenarnya aku adalah seorang yang berkecukupan tetapi tak memiliki seorangpun sahabat yang benar-benar tulus untuk  menjadi sahabat sejati, tapi kini aku akhirnya telah menjadi orang yang paling bahagia karena telah mepunyai sahabat yang tulus seperti Azdi. Terima kasih ya Allah karena engkau selalu mendengarkan apa jeritan hati hamba. ***

Tentang Penulis:
Elma Sovia Zaidir lahir di Pariaman, 27 Oktober 2000. Panggilan Elma. Panggilan Elma. Masuk 20 besar Lomba Karya Jurnalistik Siswa (LKJS) SMP se-propinsi Riau tahun 2014. Ikut Olympiade Bilogi Kabupaten Rokan Hulu Riau 2014. Aktivis ROHIS dan sering.mengikuti pelatohan jurnalistik.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar