Skip to main content
Gong Budaya

follow us

Merekam “ Misteri Kehilangan MH370 ” Dalam Puisi

Oleh : Dasril Ahmad

Masih tetap segar di ingatan kita, betapa memilukan tragedi jatuh dan hilangnya pesawat Malaysian Airlines System (MAS) MH370 dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing pada malam tanggal 8 Maret 2014 lalu. Meski Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Najib Tun Razak telah menyatakan bahwa pesawat berpenumpang 239 jiwa itu (diduga) hilang di Selatan lautan India, namun sampai sekarang keberadaan pesawat dan nasib 239 jiwa penumpangnya masih tetap misteri.

Hilangnya pesawat MAS MH370 ini menginspirasi para penulis (penyair) dari seluruh Malaysia yang tergabung dalam Persatuan Penulis dan Peminat Sastera Perak (PENTAS) dan Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (GAPENA) untuk menulis puisi dengan tema “Misteri Kehilangan MH370”, yang kemudian diterbitkan dalam buku Antologi Puisi berjudul “Segugus Pasrah Buatmu : Tragedi MH370” (Book Digital Sdn. Bhd, Kuala Lumpur, cet. I 2014 : xv + 184 halaman). Buku antologi puisi ini diterbitkan selain sebagai tanda simpati para penyair/penulis terhadap nasib para kru, awak kapal, penumpang dan keluarga korban hilangnya pesawat MAS MH370 tersebut, juga sebagai tanda dukungan kepada pihak kerajaan agar terus mengusahakan pencarian pesawat naas tersebut sehingga bisa terungkap misteri kehilangannya.

“Misteri ‘kehilangan’ MAS MH370, telah menggugah rasa dan naluri kemanusiaan, bukan sahaja di kalangan warga tanah air, malahan turut dirasai oleh warga sejagat. Getar rasa itu dilahirkan dalam pelbagai bentuk ekspresi. Tidak terkecuali dalam bentuk tulisan. Dalam konteks ini, puisi menjadi salah satu wahana untuk melahir dan mengungkapkan rasa kemanusiaan tersebut,” tulis Zaen Kasturi dalam pengantarnya berjudul ‘Penilaian Puisi’ (xii) di buku ini.

Sebanyak 101 puisi yang terhimpun dalam antologi “Segugus Pasrah Buatmu MH370” ini merupakan puisi-puisi pilihan yang lolos dari seleksi ketat --dengan kriteria tertentu, yang dilakukan tim seleksi/penilai. Menurut Zaen Kasturi, dalam membuat penilaian, unsur keseimbangan (antara tema/persoalan dengan gaya persembahan) dengan kesatuan idea diutamakan, sehingga dari 117 puisi yang masuk untuk dinilai, hanya 101 puisi yang terpilih untuk dimuat dalam antologi ini, dan 16 puisi lainnya digugurkan.

Sungguhpun demikian, menurut Haji Hasan Hamzah, Ketua 1 PENTAS, buku antologi ini berjaya menghimpunkan penyair-penyair dari seluruh Malaysia yang terdiri dari pelbagai golongan seperti penerima Anugerah SEA Write, Dato’ Dr. Zurinah Hassan, Dr. Siti Zainon Ismail, Dr. Lim Swee Tin dan Dr. Malim Ghazali PK, serta penulis-penulis yang mapan dan berpengalaman luas seperti Razali Mohd. Yusoff, Ladin Nuawi, Dato’ Awang Sariyan, Ahmad Sarju, Dr. Siti Zaleha, Hashim, Sri Diah Shahruddin dan lain-lain. Di samping itu, ahli dari kerabat GAPENA seluruh Malaysia turut menyumbangkan puisi dalam antologi ini seperi Abham T.R. Dr. Samsuddin Othman, Usman Gumanti Ibrahim, Imas Saring, Dr. Ibrahim Ghafar, Abu Hassan Ashaari, Dr. A. Rahim Abdullah, Rosmiaty Shaari dan lain-lain. Begitu juga penulis dari Sabah dan Serawak, serta penulis antarbangsa dari India, China, Indonesia dan Rusia.

***
Terkait dengan tema “Misteri Kehilangan MH370”, maka membaca 101 puisi dalam antologi ini, kita diajak untuk ikut merasakan duka/kesedihan keluarga korban hilangnya pesawat MH370; doa dan harapan agar pesawat itu ditemukan kembali; semangat yang tidak pernah padam untuk terus berusaha menemukan pesawat; dan memohon kepada Tuhan agar diberikan petunjuk lokasi hilangnya pesawat MH370 tersebut. Bertolak dari tragedi memilukan itulah, penyair merekam dan menjadikan peristiwa itu sebagai pengalaman intuitif, persoalan diri dan lingkungan sendiri, yang kemudian getar jiwa atas tragedi kemanusiaan memilukan itu pun mereka ungkapkan ke dalam puisi.

Justru itulah, sebagai upaya kita untuk sama-sama merasakan getar jiwa penyair tersebut, berikut kita nikmati 7 puisi seputar tema “misteri kehilangan MH370” yang terhimpun dalam antologi “Segugus Pasrah Buatmu MH370” ini. Ketujuh puisi itu adalah “Tuhan Memilih Malaysia” karya A. Rahim Abdullah; “Musibah” karya Lily Multatuliana; “Gelap Menutup Gelap” karya Zurinah Hassan; “Kepada Tuhan, Aku Berdoa” karya Teo Wei Sing; “Khabar yang Semakin Jauh” karya Yatim Ahmad; “Kembalikan Pesawat Kami” karya Zabidin Hj Ismail; dan “MH370 MAS” karya Nassury Ibrahim.

TUHAN MEMILIH MALAYSIA
/ A. Rahim Abdullah
Tuhan memilih Malaysia
kenapa? jangan ditanya
kalau kita bertolak dari hukum karya
atau pakai logik semata-mata.
Tuhan memilih Malaysia
kenapa? jangan ditanya
kalau pesawat MAS yang canggih itu
jadi pilihan

Jangan ditanya
jika bukan anugerah
sedia menanti
anugerah paling mahal bagi insan
yang menuju negeri abadi
kalau bukan syahid akhirati!

Tuhan memilih Malaysia
kerana manusianya tersenyum
ketika berangkat di tengah malam kudus
menerbangi pulau dan laut abadi
yang tak pernah akal waras kita
beroperasi dan wujud hakiki
di laluan realiti

Sesungguhnya, tuhan menyayangi mereka
kapal malam pencipta naratif yang panjang.
Aswara
27 Mac 2013

MUSIBAH
/Lily Siti Multatuliana

Engkau hilang
semua mencarimu
MAS MH370
ini adalah musibah

Seminggu lalu
aku pergi ke Jakarta
dan kemaren aku kembali ke Malaysia
dengan MAS MH712
ramai yang bertanya
tak takut hilangkah?

Tak mungkin pesawat hilang terus-menerus
musibah bisa saja terjadi di mana-mana
bila-bila saja, menaiki pesawat apa saja
kita hanya berdoa
semoga yang terkena musibah
mendapatkan yang terbaik daripada
Yang Maha Kuasa.

Melaka
13 Mac 2014

GELAP MENUTUP GELAP
/ Zurinah Hassan

Setelah berhari hari menanti
mereka mengkhabarkan kepada kami
bahawa perjalananmu telah terhenti
di Lautan Hindi
benarkah
kau telah sampai ke destinasi
mendarat di terminal abadi
di sisi Ilahi

Ya Allah
kami belum berhenti berharap
walau gelap sedang menutup gelap
sejak kau tidak pulang
kami menggeledah segenap ruang
menerawang
ke dalam gumpalan awan
ke dalam lapis lapis gelombang
yang semakin garang

Benarkah angka tiga ratus tujuh puluh
menjadi lambang hati kami
Deraian kelopak harapan
yang luruh di laut jauh.

KEPADA TUHAN, AKU BERDOA
/ Teo Wei Sing

Hari ini
kembalilah aku menghitung
selembar demi selembar waktu
waktu yang menghiris-hiris luka ahli keluarga
mereka yang masih menunggu khabar berita
adakala nyalaan harap dipercikkan ke dada mereka
kerana ada yang mengata mereka diculik sementara
adakala rindu sedu hangus dalam leburan cinta
kerana ada yang berteriak pesawat meletup terhempas ke dasar laut
ke dalam dasar laut yang sedasar resah dan gundah
kulihat wajah-wajah lelah yang terjunam dari puncak pedih
tak usai coretan kerdilku ini mengungkapkan rasa
kepada Tuhan kukirimkan doa
doa menerusi puisi sejahtera
puisi yang menyayukan manusia
sanggup kuserahkan tulus dan pasrah
kepada Engkau yang mencipta semesta
kurniakan cahaya
kurniakan cahaya kepada mereka yang
menyelinap dalam gelap-katup yang meronta
kurniakan cahaya kepada mereka yang sudah
senyap di angkasa.
12 Mac 2014 – 12.03 a.m

KHABAR YANG SEMAKIN JAUH
/ Yatim Ahmad

Semakin jauhnya rasa hati mengenangmu
ketika doa bagaikan terangkat jejaknya
melihat kesudahan nasib, sekali mungkin
hanya bangkai pesawat, tak mengapa
air mata kering selama kami tahu
keberadaan kalian

Kini sudah sejauh ini mencari
antara gelegar lautan memutuskan asa
kita bagai tersesat di bumi sendiri
ketika jejak mengisyarakan
harapan, tiba-tiba radar dan stelite pengesan
berhalusinasi, akal pun letih yang diduga
bukan sebutir pasir telah bergeser
entah ke mana, merundukkan ikhtiar

Kapada yang terdekat
anak yang menantikan ayah
sepi dibuaian atau daun pintu
tak berketuk
kepada isteri atau suami memahami
malam telah sunyi mengundang
kenangan, mimpi berteriak ngeri
kepada ibu dan ayah
mungkin tak lalu makan
hanya doa dari pelusuk masjid
gereja, biara dan tokong
mengamankan kerana
kita sama berdukacita

Mungkin untuk hari esok
ada belas kasihan yang datang
hulurkan simpati
sekalipun Dia menakdirkan
Lautan Hinda kebun pusara
adalah ia menyatukan benua
antara persaudaraan dan
kemanusiaan.

Kota Kinabalu.

KEMBALIKAN PESAWAT KAMI
/ Zabidin Hj. Ismail

Samudera Hindi
engkaukah menelan MH370
pesawat kami itu
terbangnya bukan ke situ
kenapa engkau tegar menelan
anak-anak kecil
orang tua tiada upaya
anak-anak kami itu
Ya Allah
kau perintah samudera ini
kembalikan pesawat kami.

Ipoh, 26 Mac 2014.

MH370 MAS
/Nassury Ibrahim

a)
8 Mac 2014
Ke manakah engkau
di pagi ini
matahari belumpun mandi
telah engkau pergi
tinggal daku
dalam sunyi diri
oh, sepinya hati
tanpamu di sisi.

b)

8 April 2014
Di manakah engkau
di senja ini
matahari telahpun pergi
engkau belum kembali
tinggal daku
dalam resah menanti
oh, siksanya hati
tanpamu di sisi.

c)

26 negara pencari
Resah hatiku resah
engkau hilang tanpa berita
gundah hatiku gundah
menantimu kapan tiba
siksa hatiku siksa
hanya kenangan
menemani rasa.

d)

239 nyawa
Di laut di teluk
telah kucari
di hutan di gunung
telah kuredahi
engkau hilang
daripada radar teknologi
oh, Tuhan tolongi kami
tak terjawab teka-teki-Mu ini.

12 Mac – 8 April 2014.

Sesungguhnya, merekam dalam puisi, kata Sapardi Djoko Damono (2013) tidak sama dengan memotret: puisi merekam tanggapan penyair terhadap apa yang dipahami dan hayatinya di sekitarnya. Yang muncul bukan lagi apa yang ada di hadapannya, tetapi apa yang ada di dalam pikirannya. Begitulah, 101 puisi dalam antologi “Segugus Pasrah Buatmu MH370” ini merupakan puisi-puisi pilihan yang berisi tanggapan (termasuk apa yang ada di pikiran) penyair terhadap misteri kehilangan MH370 yang memilukan itu. *** (Padang, 19 Pebruari 2016)

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar