Skip to main content
Gong Budaya

follow us

Nafas Kemerdekaan Dalam Puisi

Oleh : Dasril Ahmad

Judul tulisan ini mengingatkan kita kepada puisi-puisi bernada patriotisme, heroik, dan sejenisnya, yang menggambarkan semangat kemerdekaan ataupun semangat perjuangan untuk merebut kemerdekaan tersebut dari tangan kolonialisme. Namun, bila ditilik lebih seksama, dalam puisi-puisi tentang kemerdekaan itu tidak hanya mengungkapkan kemerdekaan sebagai suatu obyek yang hendak dicapai, melainkan di dalamnya juga diungkapkan sikap serta pandangan si penyairnya terhadap kemerdekaan itu sendiri. Hal ini erat kaitannya dengan peristiwa bersejarah yang melatarbelakangi timbulnya kemerdekaan tersebut, yang menimbulkan perubahan drastis terhadap nilai-nilai kemanusiaan atau realitas nasib manusia (humanisme) di saat itu.

Dalam deretan penyair terkemuka Indonesia tercatatlah penyair Chairil Anwar (pelopor Angkatan ‘45) sebagai seorang penyair yang dengan tegas dalam puisi-puisinya mengungkapkan kemerdekaan sebagaimana dikemukakan di atas. Kritikus Mursal Esten (1982 : 13) mengatakan, “Dalam puisi-puisi Chairil Anwar, kemerdekaan selain dijadikan tema, sekaligus juga sikap bahwa kemerdekaan itu bukan hanya terbatas pada kemerdekaan sebagai bangsa, tapi terutama adalah kemerdekaan manusia.
Sastrawan Chairil Anwar
Chairil Anwar 

Pada zamannya, Chairil anwar tidak hanya berhadapan dengan penjajahan bangsa oleh bangsa, tapi juga dengan sikap-sikap feodal, hipokrisi, kebekuan nilai-nilai, dan bahkan penjajahan manusia oleh manusia. Kalau para sastrawan Angkatan ‘45 bicara tentang kemerdekaan, maka itu adalah dalam kaitan (konteks) kemerdekaan manusia, kalau bicara tentang nasib, maka itu adalah dalam kaitan nasib manusia. Perang Dunia I dan II, penjajahan Jepang, dan juga Revolusi Fisik memperlihatkan kepada mereka betapa rapuhnya nasib manusia.”

Dengan demikian, bisa dipahami bahwa proses penciptaan para sastrawan Angkatan ‘45 dominan dilatarbelakangi oleh realitas nasib manusia yang tertindas (humanisme), sebagai akibat dari peristiwa bersejarah yang timbul ketika itu. Hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan utama (tema) yang diungkapkan di dalam karya sastra yang diciptakan pada waktu itu. Dan sehubungan dengan humanisme ini pula, kita temui puisi-puisi Chairil Anwar lebih banyak bernada ekspresionisme ketimbang patriotisme.

Ekspresionisme dimaksudkan sebagai suatu pernyataan jiwa terhadap realita yang menimpa manusia. Dengan ekspresionisme, Chairil ingin sebebas-bebasnya mengeluarkan pernyataan jiwanya terhadap humanisme, dan bagi Chairil sikap begini secara tegas memperlihatkan bahwa kemerdekaan yang hendak dicapai haruslah dilihat dalam konteks kemerdekaan atas nasib manusia, kemerdekaan bangsa dan manusia yang semakin rapuh nasibnya itu. Dalam sajak “Aku” misalnya, Chairil mengungkapkan semangat hidupnya yang berkobar-kobar; “Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang menerjang”. Dan “Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih dan perih/Dan aku akan lebih tidak perduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Semangat hidup Chairil yang berkobar-kobar (seperti diungkapkan dalam puisi di atas), ternyata tak kunjung reda. Malah dia juga memperlihatkan semangat juang yang gigih dalam konteks untuk merebut kemerdekaan. Hal ini dikisahkan oleh A. Teeuw (1978 : 203), bahwa; “Dia menemukan penyokong dan penentang, dia disanjung dan dihina, akan tetapi nyatalah dia tokoh yang berkuasa, yang memimpin, dia pokok yang diperkatakan dan dibahas, seorang yang senantiasa ada. Demikianlah terus-menerus keadaannya, sesudah perang, dalam zaman revolusi. Dia pergi ke daerah Krawang untuk memainkan peranan fisik dalam perjuangan bersenjata menentang pihak Sekutu, kemudian kembali ke Jakarta. Di sana dia senantiasa tegak sebagai pemimpin.”

Puisi Chairil Anwar “Krawang-Bekasi” mengungkapkan hal itu. Betapa secara tegas dia menyatakan sikapnya sebagai tokoh pejuang kemerdekaan yang melibatkan diri sepenuhnya dengan perjuangan revolusioner tersebut. “Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi/tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi// Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,/terbayang kami maju dan berdegap hati?” Dan “Kami sudah coba apa yang kami bisa/ Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa// Kami sudah beri kami punya jiwa/Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4 -5 ribu nyawa.”

Di sisi lain, Chairil Anwar memandang kemerdekaan sebagai suatu keadaan bebas daripada segala ikatan yang melilitnya, termasuk juga bebas dari ikatan dengan seorang perempuan (mungkin kekasih?). Kemerdekaan sebagai kebebasan di sisi Chairil ini juga terlepas dari segala sumpah, yang hanya merupakan suatu badai yang merenggut. Setelah badai itu berlalu, maka kembali Chairil mengenyam hidup yang terlalu tenang, merasakan kembali semangat dan kenikmatan hidup.

Lihatlah, betapa sikap Chairil sendiri dalam memandang kemerdekaan dalam konteks ini, pada puisinya berjudul “Merdeka” ini: “Aku mau bebas dari segala/ Merdeka/ Juga dari Ida // Pernah/ Aku percaya pada sumpah dan cinta/ Menjadi sumsum dan darah/ Seharian kukunyah – kumamah//Sedang meradang/Segala kurenggut/ Ikut bayang//Tetapi kini/ Hidupku terlalu tenang/Selama tidak antara badai/Kalah menang/Ah!Jiwa yang menggapai-gapai/Mengapa kalau beranjak dari sini/Kucoba dalam mati.”

Kemudian, pada deretan penyair tahap kedua dari angkatan ‘45 ini (minjam istilah A. Teeuw), kita temui pula penyair Toto sudarto Bachtiar. Lain Chairil lain pula pandangan Toto terhadap kemerdekaan. Bagi Toto kemerdekaan lebih menjurus kepada perspektif yang luas dan menyeluruh, meliputi kemerdekaan tanah air dan laut; tanah air si penyair dan pengembaranya. Begitu pula cinta salih dipoles oleh nada mesra, merupakan hakekat dari kemerdekaan dimaksud. Oleh karena itu, bawalah diri kepadanya, dan janganlah takut dengan kemerdekaan tersebut. Kita simak puisi Toto Sudarto Bachtiar berikut.

Tentang Kemerdekaan 

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah cinta salih yang mesra
Bawalah daku kepadanya
(1953)

Kendati proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia telah dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, namun secara keseluruhan suasana merdeka (dalam arti hidup bebas dan tenang) belumlah terwujud sebagaimana yang diinginkan. Setahun kemudian, serpihan keresahan, kecemasan tetap melanda rakyat. Kerinduan dan harapan istri dan anak yang kehilangan suami dan orang tua di medan perang, terus bergema dan merintih tak kunjung reda. Anak-anak yang ditinggal ayahnya pergi berjuang merebut kemerdekaan selalu mengharapkan agar ayah tercinta segera kembali bersamanya; anak-anak itu memang masih mengharapkan belaian kasih sayang orang tuanya. Begitupun juga harapan istri para pejuang yang selalu mendambakan kehadiran suami dalam nafas kemerdekaan ini. Namun semuanya hanya tinggal kenangan, tinggal serpihan rintihan, uraian air mata yang memang ditakdirkan begitu. Penyair Taufiq Ismail mengungkapkan suasana miris itu dalam sajak “1946 : LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK” berikut.

Sebuah truk laskar menderu
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan lagu
‘Sudah Bebas Negeri Kita’
Di jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun, terjaga:
‘Ibu, akan pulangkah bapa,
Dan membawakan pestol buat saya?”
(1963)

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar